Tentang Dr. Maria Montessori

 

Dr. Maria Montesori was a childhood practitioner. She was the woman medical doctor in Italy, whose educatin background was engineering, patology, psychiatry, nutrition and hygene, and anthropology. She was  

 

Perkenalan Dr. Montessori dengan dunia anak adalah ketika ia secara sukarela terlibat dalam penelitian di sebuah rumah sakit jiwa anak. Dalam observasinya Dr. Montessori melihat bahwa anak-anak ini haus akan suatu stimuli. Melalui observasi yang panjang dan riset yang mendalam, ia mencoba untuk menciptakan beberapa alat bantu untuk memenuhi kehausan tersebut. Ternyata hasilnya cukup beragam, namun semuanya menunjukkan kemajuan yang signifikan. 

 

Kemudian ia bertanya dalam hati, apakah kehausan akan stimuli seorang anak yang memiliki kebutuhan khusus berbeda berbeda dengan yang tidak? Pertanyaan ini mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh bagi anak-anak. Kemudian di sebuah kawasan kumuh di Roma ia mendirikan Casa dei Bambini, Rumah Anak-anak. Keluarga yang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah Montessori ini bekerja sebagai buruh yang harus bekerja dari pagi sampai larut malam. Praktis anak-anak 'kumuh' ini dibiarkan begitu saja di jalanan. Akibatnya muncul masalah sosial dimana-mana. Sekolah ini menjadi laboratorium yang tepat bagi penelitian Dr. Montessori. 

 

Dr. Montessori percaya bahwa seorang anak terlahir dengan potensi 'Normal', yakni mandiri, fokus, bertanggung jawab, percaya diri, dan sebagainya. Ia menjadi tidak seperti itu karena kita tidak bisa melihat kebutuhan penting mereka pada masa perkembangannya. Setelah mengalami pengalaman Montessori anak-anak 'kumuh' yang tadinya suka berteriak, kotor, dan sering berkelahi, berangsur menjadi pribadi yang tenang, damai, dan peka terhadap kebersihan. Dan ini terjadi tanpa paksaan. Bukan itu saja, pada sisi akademis mereka pun mengalami kemajuan yang mencengangkan semua orang. 

 

Penemuan ini kemudian terdengar ke seluruh penujur Italia dan Dr. Montessori pun mendirikan beberapa tempat pelatihan. Pada tahun 1909 ia diundang untuk memberikan kuliah di Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, dan Belanda. Ia selalu ditemani oleh anaknya, Mario. Sekembalinya ke Italia Dr Montessori mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk pengembangan pusat pelatihan. Kemudian pada tahun 1930 Benito Mussolini ingin menggunakan metode ini untuk penyeragaman fasisme ke penjuru dunia. Hal ini bertentangan dengan ideologi Montessori yang menjunjung perdamaian dunia. Sejak itu Mario dan Dr. Maria Montessori diawasi ketat oleh pemerintah. Empat tahun kemudian ia mengundurkan diri dari organisasi Montessori yang ia dirikan, lalu meninggalkan Italia. Berhenti lah segala kegiatan Montessori di negara itu.

 

Maria Montessori meneruskan riset di India, dimana penelitiannya tidak hanya mengacu pada ilmu pengetahuan namun juga menyentuh pada aspek spiritual (bukan religi); bahwa setiap anak merupakan bagian dari alam semesta yang memiliki misi kehidupan.

Montessori Methodology

 

In her first Montessori School, Casa dei Bambini, she made her important discoveries. One of them was the state of children's mind called the Absorbent Mind that take place in children 0-6. During this period children's brain acts like a sponge that absorb imporessions from the environment. Children are also very sensitive to external stimuli, known as Sensitive Period. This sensitivity happens only happen during certain period of time below six. Once it passed, it will never return. These discoveries became the foundation of her researches in coming years. 

 

Another discovery Dr. Maria Montessori made was that children learn best using their five senses. In Montessori classroom children use the carefully-developed materials to educate all five senses that act as a door of knowledge for the child. Through these aparatus they grasp impressions that 

 

Montessori classrooms are often refered to the Prepared Environment. It is a situation specifically designed to meet children's needs throughout their developmental stages. Everything is within child's arm reach Here children are given freedom to move purposefully, choose responsibly, and speak in regards of respect toward others.  

 

 

Montessori influence in Indonesia

 

In 1913 Ki Hadjar Dewantara was in axile in the Netherland for his writing, "If I was a Dutch". During this time he was fascinated by the ideas of Western education fugures Froebel and Montessori, as well as Indian education movement activist; Satiniketan and Tagore family. These underlying influences would contributed to his idea on developing his own educational system. (source: wikipedia) 

 

One of the books he read was The Montessori Method by Dr. Maria Montessori, published in 1907. The book explained how important the roles of teachers are. Three years upon returning back home, he established Perguruan Taman Siswa with philosophy as follows:

 

Ing ngraso sung tulodo

Ing madyo mangun karso

Tut wuri handayani

 

Literally means a teacher leads by projecting leadership traits, stands by his students to awaken their spirit, and pushes them forward. In Montessori this philosophy is covered in The Role of a Teacher.

 Jalan Cisadane no.18, 

Cikini Menteng, Jakarta Pusat

021 392 0328

info@cosmic-montessori.com

© 2015 Cosmic Montessori Institute

COSMIC Montessori Institute

Join us on:

 

  • Instagram Social Icon