8 hal yang membuat guru Montessori berbeda

September 27, 2016

 

 

Guru sering diartikan ia yang digugu dan ditiru. Entah ini sebuah istilah yang dianggap serius atau bercandaan, namun perannya begitu kompleks dan berhubungan erat bagi perkembangan seorang anak. Seperti halnya setiap profesi di segala bidang, seorang guru pun diwajibkan memiliki sertifikat kompetensi. Bicara lebih spesifik tentang bidang Montessori, menjadi pendidik Montessori tidaklah cukup hanya berbekal diploma yang diperoleh dari belajar mendalam selama 18-26 bulan. Ia mesti memiliki 9 karakteristik sebagai berikut: 

 

 

1. Menjadi panutan

Secara alamiah seorang anak melihat dan mendengar orang-orang terdekatnya, kemudian mencontoh. Seorang guru Montessori memiliki hubungan sangat dekat dengan anak didiknya. Sehingga segala tindak laku mereka menjadi acuan murid dalam bersikap sehari2. Ia diharapkan memiliki ketepatan dalam bertindak dan berkomunikasi.

 

2. Selalu mengobservasi

Tugas utama guru Montessori adalah memperhatikan perkembangan terkecil setiap anak didiknya. Itulah sebabnya ketika di dalam kelas kita akan melihat seorang guru sering terlihat banyak menulis setiap perilaku si murid. Seusai kelas tulisan tersebut akan diolah untuk menentukan arah pembelajaran setiap anak sesuai dengan kecepatan dan minat belajar mereka. Kemampuan observasi inilah yang membedakan guru biasa dengan pendidik Montessori.

 

3. Menjadi penghubung antara lingkungan/peralatan dan anak

Setiap peralatan di kelas Montessori adalah aparatus yang dirancang untuk keperluan khusus, misalnya pink tower untuk perkembangan visual spasial, LMA untuk membangun kata, kegiatan menyendok beras untuk mengasah motorik halus, dan lain sebagainya. Tidak ada mainan di kelas Montessori. Ada ratusan peralatan dan guru Montessori memahami filosofi di balik setiap alat.

 

4. Membantu anak menjadi mandiri dari dalam diri

Tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia melalui kemandirian. Kemandirian tidak cukup diartikan bisa mengurusi diri sendiri. Ketepatan bertindak, mengambil keputusan setelah menimbang baik-baik, mengemukakan pendapat, dan bertanggung jawab atas pilihannya adalah wujud dari kemandirian. Seorang guru Montessori selalu menjadi fasilitator dalam hubungan lingkungan dan anak dalam hal kemandirian tersebut.  

 

5. Bersemangat akan hal baru

Jarang sekali kita bertemu guru Montessori yang cuma tahu hal itu-itu saja. Mereka umumnya memiliki pengetahuan umum yang luas. Kita bisa mengajak mereka berdikusi mengenai harga cabe rawit di pasar hingga tatanan semesta. Mereka selalu bersemangat mempelajari hal yang berhubungan dengan orang banyak dan bersifat kemanusiaan. Karena menjadi guru Montessori adalah sebuah panggilan. 

 

6. Menginspirasi anak agar mencintai membaca dan belajar

Hal yang membedakan anak sekolah biasa dan Montessori adalah kecintaan mereka untuk belajar. Tentu hal ini tidak diartikan duduk mengerjakan PR. Secara alamiah anak suka sekali belajar. Namun ketika mereka dipaksakan dengan cara yang tidak sesuai maka kecintaan tersebut perlahan akan luntur. Dalam benak anak: belajar itu enggak asyik. Berbeda halnya di dalam lingkungan Montessori yang luwes, seorang guru hanya perlu mengikuti individu setiap anak. Dengan begitu belajar menjadi suatu hal yang menyenangkan.  

 

7. Tidak hanya mengurusi diri sendiri

Guru Montessori tidak hanya mengurusi badan sendiri. Ia memiliki kepentingan terhadap kebaikan orang banyak di dalam kehidupan mereka. Ketika bekerja ia tidak sekedar mengajar untuk menghabiskan hari itu. Ada sebuah kesadaran bahwa yang mereka kerjakan adalah demi kebaikan kolektif dan perdamaian seperti cita-cita dari Dr. Montessori. Maka itu hari-hari mereka penuh dengan kontemplasi. 

 

8. Selalu eling bahwa anak bisa bukan karena guru

Bayangkan seorang tukang kebun memberikan pupuk, menyirami, dan mengasihi sebuah pot bunga. Seperti itulah guru Montessori. Ketika seorang anak membaca kalimat pertamanya, atau menyelesaikan sejumlah soal matematika yang rumit hal tersebut terjadi bukan karena jasa-jasa seorang guru, melainkan karena pontesi dan usaha sang anak. Dagunya tidak boleh naik dan dada tidak boleh membusung. Ia harus eling bahwa dalam diri setiap anak terdapat potensi luar biasa yang siap muncul kapan saja. 

 

 

 

Please reload

Featured Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags
Please reload

Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

 Jalan Cisadane no.18, 

Cikini Menteng, Jakarta Pusat

021 392 0328

info@cosmic-montessori.com

© 2015 Cosmic Montessori Institute

COSMIC Montessori Institute

Join us on:

 

  • Instagram Social Icon